Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 12


 

Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 12

sinopsis episode 12
 
Musim telah berganti menjadi musim semi, namun hubungan Naoki dan Kotoko ya masih itu-itu saja. Tak ada kemajuan setelah malam Natal. Kalau musim semi datang, berarti sudah ganti tahun ajaran. Kotoko dan Naoki sudah mahasiswa tingkat 2, jadi senior dan punya adik kelas. Yay! 
Bahkan Sudo pun menjadi ketua club tenis yang sekarang sedang menyambut mahasiswa baru yang ikut tenis. Dan itu berarti juga ada saingan baru Kotoko (dan Yuko) untuk mendapatkan Naoki.
Yaitu Aiko alias adik Yuko sendiri, mahasiswi hukum dan pemenang turnamen tenis wanita yunior tahun kemarin. Whoaa.. Saingannya lebih berat lagi. Target Aiko tahun ini? “Memenangkan kejuaraan nasional tenis wanita dan memenangkan hati Naoki.”
 
 
Hahaha… Kalau Kotoko sih jelas bete dengernya. Tapi Yuko pasti jauh lebih bete lagi denger adiknya sekarang juga adalah saingannya. Pasti sekarang dia nyesel kenapa menjadikan Naoki sebagai tutor Aiko.
 
 
Dan kocaknya lagi. Superspy Mama Irie juga sudah mengetahui kalau Aiko adalah saingan berat untuk Kotoko. Dia sudah punya fotonya loh. Ditempel di kulkas sebelahan dengan foto Yuko. Hihihi..
Tapi baginya, Aiko pun juga NG (Not Good) untuk Naoki, karena ia merasa Aiko akan lemah saat menghadapi masa-masa sulit.. Ia tetap menganggap Kotoko yang pantang menyerah adalah yang paling cocok untuk Naoki. 
Haha.. dipuji pantang menyerah, Kotoko pun malah kecil hati, “Apa itu adalah pujian?” Tapi, pokoknya bagi Mama Irie, Kotoko is the best deh buat Naoki.
 
 
Tingkat 2, berarti mulai banyak yang mencari kerja part time. Termasuk Satomi dan Jinko yang sudah mendapat pekerjaan itu. Satomi magang di perusahaan majalah favoritnya dan Jinko bekerja di sebuah perusahaan rekaman. Mereka sangat bersemangat sekali akan pekerjaan barunya karena impian mereka bekerja di tempat seperti itu.
Kotoko pun bertanya-tanya. Sebenarnya apa impiannya. Dan inilah impiannya.
 
 
LOL. Bahkan Jinko dan Satomi langsung menebak pikiran Kotoko tanpa Kotoko mengucapkannya.
Tapi sebenarnya Kotoko galau, sebenarnya apa yang ia inginkan untuk masa depannya? 
Hmm.. good question.
 
 
Kayanya kondisi kesehatan Papa Irie tak bagus karena ia sekarang ke rumah sakit untuk mendapatkan hasil medical check-upnya. Malamnya, tak biasanya, ia pergi ke restoran Aihara untuk makan sendiri. Ia ingin tahu apa yang akan temannya lakukan untuk kelangsungan restorannya?
 
 
Tak disangka, Papa Aihara berkata kalau mungkin ia akan menutup restorannya. Dengan kemampuan memasak Kotoko sekarang, ia tahu kalau restorannya tak akan berjalan. Ia tahu Kinosuke (Kinchan) akan menjadi chef yang hebat.dan bisa meneruskan bisnis ini. Ia juga tahu kalau Kotoko itu tak sempurna. Tapi ia ingin Kotoko menikah dengan pria pilihannya hanya untuk meneruskan restoran, “Aku ingin Kotoko menikah dengan seseorang yang ia cintai.”
 
Aww.. papa.. :’)
Papa Irie mengangguk-angguk dan bertanya apa ia egois jika meminta Naoki untuk meneruskan perusahannya? Papa Aihara berkata kalau kasus Papa Irie beda. Jika Naoki tak mau meneruskan, ada Yuki yang bisa meneruskan. Papa Irie malah mendesah muram, “Akan terlambat jika aku menunggu Yuki tumbuh  dewasa.”
 
Whaaa…?
 
 
Kotoko semakin merasa tertinggal dari teman-temannya saat mendengar Satomi yang walau capek begadang semalaman karena mempersiapkan penerbitan tapi tetap bersemangat. Dan saat pulang kuliah, ia tak bisa hang out bareng teman-temannya karena kedua sahabatnya itu harus bekerja.
 
 
Dan yang lebih membuatnya galau saat Kinchan menyuruh Kotoko untuk mencicipi konyaku buatannya, yang sangat enak dan profesional. Ia merasa semua teman-temannya telah menemukan impiannya sedangkan ia belum.
Kinchan mencoba menghibur, Kotoko pasti dapat menemukan impiannya. Kotoko pun bertanya, apa yang membuat Kinchan tahu apa yang ia ingin lakukan? Kinchan menjawab kalau hal itu tidak untuk dipikirkan, “Sama seperti jatuh cinta. Kau tak dapat menjelaskan alasannya. Kau hanya tahu kalau kau memang menyukai orang itu. Kau hanya tahu kalau kau bersemangat dan senang bersamanya, ingin menghabiskan waktu terus dengannya. Seperti itulah. Dan kau akan menyadari kalau ternyata kau selalu melakukan hal itu.”
 
Damn.. Kinchan, why you are so awesome?  
Kotoko pun merasa kalau ia ingin bekerja dengan orang yang ia cintai dan itu berbeda dengan pekerjaan yang selalu ia cintai. 
 
Kocaknya (plus sedih kalau ngeliat Kinchan), Kotoko pun menghayal,
 
 
Kalau Naoki menjadi pilot, ia akan menjadi pramugarinya.
 
 
Kalau Naoki menjadi petenis, ia akan menjadi managernya.
 
 
Kalau Naoki menjadi peneliti, ia akan menjadi asistennya.
 
Betapa sedihnya melihat Kinchan yang menatap Kotoko yang senyum-senyum nggak jelas. 
 
 
Namun Kotoko pun menyadari kalau impiannya selalu berubah tergantung dengan pekerjaan yang ia cintai. Kinchan pun mengusulkan, “Jadi, kalau orang yang kau cintai adalah seorang koki, kau bisa menjadi pemilik restoran kan? Sangat bagus jika kau ingin mendukung orang yang kau cintai itu. Pria selalu ingin membuat wanita yang seperti itu untuk bahagia. Kurasa kau bisa menjadi pemilik restoran yang hebat.”
 
Kotoko tertawa, menganggap Kinchan bergurau.
 
 
Untuk mencari impiannya, Kotoko mencari buku di perpustakaan tentang pekerjaan. Dan ia disana melihat Naoki yang sedang tekun belajar. Apa yang sedang ia pelajari?
Kita bisa mendapat jawabannya setelah Kotoko keluar dari perpustakaan. Yuko tak sengaja bertemu dengan Naoki, dan kaget melihat Naoki belajar bahasa latin, dan ia pun terkejut, “Buku kedokteran? Apa yang ingin kau lakukan?”
 
 
Keluarga Irie dan Aihara mengadakan pesta merayakan tahun kedua Kotoko dan Naoki di universitas. Hubungan Kotoko dan Yuki pun semakin akrab karena mereka sudah bisa bercanda.
 
 
Ayah mengajak Naoki bicara di kamar kerjanya dan meminta ibu untuk menemaninya. Ternyata ayah menagih keputusan Naoki, apakah Naoki mau meneruskan perusahaannya, Naoki menjawab kalau ia belum bisa memutuskan.
 
Maka ayahpun meminta Naoki untuk bekerja di perusahaan saat libur musim panas nanti. 
Ibu yang sepertinya cukup mabuk, juga meminta agar Naoki untuk mulai memikirkan Kotoko, “Jika kau mengambil alih perusahaan ayahmu, kurasa Kotoko-chan adalah istri ideal untukmu.”
Ayahnya pun menyetujui dengan saran istrinya. Mengurus perusahaan sebesar itu sangatlah berat, dan Naoki butuh orang yang bisa merawatnya, “Kau tak bisa hanya menikah dengan gadis yang kau cintai saja. Jika dilihat dari sudut pandang itu, aku juga merasa Kotoko-chan adalah istri idealmu. Wala yang paling penting adalah perasaanmu. Katakan pada kami bagaimana perasaanmu.”
 
Aww.. akhirnya Papa Irie menunjukkan ia ada di pihak siapa.
 
 
Kotoko yang disuruh ayahnya untuk menyajikan teh ke ruang kerja, tersenyum berbunga-bunga. Namun tak terduga, ia mendengar suara Naoki dingin, “Bagaimana perasaanku? Ayah dan ibu sama-sama memaksakan kehendak sesuai yang ayah ibu inginkan, sehingga kelihatannya aku tak punya pilihan lain. Jalan yang akan kutempuh telah ayah ibu pilih. Ayah dan ibu bermain kotor.”
 
 
Orang tua Kotoko syok mendengar kata-kata Naoki. Begitu pula Kotoko yang terpaku di depan pintu ruang kerja yang terbuka karena Naoki keluar. Naoki pun juga kaget melihat Kotoko berdiri di sana. Tapi ia langsung pergi.
Kotoko yang tersadar, tergagap-gagap dan menjelaskan pada ayahnya dan Yuki kalau jaket Naoki ketinggalan maka ia akan menyusulnya. 
 
Ia menyusul Naoki dan menyadari kalau Naoki tak pergi menuju stasiun. Naoki berkata kalau ia ingin berjalan saja. Mereka pun akhirnya jalan bersama. 
 

Sepanjang perjalanan hanya Kotoko saja yang berbicara dan Naoki mendengarkan. Kotoko mengatakan kalau orang tuanya tak bisa disalahkan karena Naoki jarang berbicara sehingga tak tahu apa keinginan Naoki. Tapi ia pun juga mengerti perasaan Naoki sekarang. Ia yakin kalau Naoki pasti ingin menentukan sendiri jalan hidupnya. Ia pun juga seperti itu. 

 
 
Naoki pun bertanya, “Kau bilang kau ingin kuliah untuk menemukan apa yang kau inginkan. Apa kau sudah menemukannya?”
 

Kotoko menggeleng muram. Ia pun bercerita tentang keresahaan yang ia rasakan.Jinko, Satomi dan Kinchan sudah menemukan keinginannya. Dan ia merasa tertinggal karena ia belum menemukan keinginannya.

Maka dari itu Kotoko merasa Naoki itu hebat. Jika ia diminta ayahnya untuk meneruskan bisnis restoran ayahnya ia akan mendengarkannya Tapi berbeda dengan Naoki yang tak mendengarkan ayahnya, “Jadi, tak hanya pekerjaanmu saja, tapi juga cinta..”
 
 
Kotoko tersenyum getir mengingat ucapan Naoki, “Tak hanya pekerjaan yang tak bisa kupilih.. aku juga tak bisa memilih siapa yang ingin kucintai.”
 
“..Kau tak perlu mendengarkan mereka. Kau bisa memilih siapa yang kau cintai.  Tak ada alasan untuk mencintai seseorang. Irie-kun, kau harus menemukan orang yang kau cintai dan bahagialah.”
 
 
“Aku ingin menjadi dokter,” ujar Naoki tiba-tiba.
 
“Apa?” tanya Kotoko kaget.
 
Naoki berhenti dan menoleh menatap Kotoko, “Aku berpikir untuk ujian kembali untuk bisa pindah ke fakultas kedokteran.Aku tak tahu apa aku bisa melakukannya, tapi aku ingin mencobanya.”
Dan pikiran Naoki kembali pada malam di apartemen itu. Saat Kotoko berkata keputusan medis harus diambil dalam hitungan detik. Sambil berjalan lagi ia berkata, “Kedokteran adalah hal yang pertama yang menarik di dalam kehidupanku.”
 
Kotoko pun bertanya mengapa Naoki tak memberitahukan pada ayahnya tadi. Itu karena Naoki merasa belum pasti. Namun sekarang ia sudah pasti. 
 
 
“Kapan kau merasa pasti?”
 
“Baru saja.”
 
“Kapan baru saja itu?”
 
“Saat kita berjalan ini.”
Aww… Lampu menunjukkan warna hijau dan mereka berjalan bersama. Naoki meminta Kotoko untuk tak memberitahukan keputusan ini pada orang tuanya sampai ia berhasil. Kotoko mengiyakan tapi kenapa juga Naoki memberitahukan hal ini padanya? Naoki menjawab ia sendiri tak tahu.
 
 
Mereka berjalan hingga Kotoko menyadari kalau mereka akhirnya tetap sampai ke stasiun padahal arah yang mereka ambil berbeda. Dan Naoki menjawab, “Kupikir karena banyak cara untuk sampai ke tujuan kita.Walau sepertinya kita keluar jalur, tapi kita memperoleh hal yang penting saat itu. 
 
Dan Naoki pun meninggalkan Kotoko dengan, “Bye Kotoko” sama seperti saat Naoki menunjukkan kalau ia adalah tutor di rumah Yuko.
 
Kotoko masih bertanya-tanya, apa alasan sebenarnya Naoki mengatakan hal sepenting itu padanya. 
 
 
Dan kita melihat apa yang dipikirkan Naoki saat itu. Ia teringat Kotoko berkata kalau ia percaya Naoki dapat melakukannya. Menjadi dokter, menemukan obat baru dan menyembuhkan pasien dalam hitungan detik.
 
Aww.. So deep..
 
 
Di rumah, Mama Irie menangis karena merasa ia menjadi ibu yang buruk. Ia tak menyadari kalau suaminya memegang dadanya, tepat di bagian jantung. Dan Papa Irie pun terjatuh.
Komentar :
 

Saya sangat suka dengan episode ini. Dan itu tak hanya karena hubungan Naoki – Kotoko saja. Tapi tentang mimpi. What is your dream? What is your passion?

Saya suka dengan analogi Itazura na Kiss untuk memberitahukan kalau Banyak jalan menuju Roma dan hubungan antara Naoki dan Kotoko. Di awal, saat Naoki memilih jalan memutar, ia yang memandu Kotoko dengan berjalan di depan. Walau di depan ini bukan 2 meter seperti waktu pertama kali Kotoko pindah rumah.

Dan saat ia menemukan sebuah jalan, ia seperti  “Oh.. itu..” dan dengan langkah yang lebih cepat, ia memilih jalan itu.

Kotoko kaget dengan tindakan Naoki, tapi ia tetap mengikuti langkah Naoki dari belakang. Dan dari jalan yang ramai, mereka berbelok ke jalan yang lebih sepi. Dan pada saat Naoki memilih berbelok ke jalan lain itu, saya tak melihat orang lain selain mereka berdua.

Saat itu, saya rasa,  Naoki sudah sadar kalau ia sudah menemukan jalan menuju ke Stasiun. Karena setelah itu, Naoki berjalan lebih santai dan menjajari langkah Kotoko. Dan saat lampu berubah warna hijau, ia berjalan bersama Kotoko.

Metafora ini kelihatannya memang disengaja oleh pihak produksi Itazura na Kiss. Karena itulah yang ingin dilakukukan Naoki terhadap Kotoko dalam kehidupannya. Ia tetap ingin membawa Kotoko dalam kehidupannya. Kalau mau di-review lagi, Naoki tak pernah mengatakan kalau ia tak suka dengan Kotoko. Ia hanya mengatakan kalau ia tak punya pilihan lain (padahal ia memang memilih Kotoko. Haha.. sok tau ya saya)

Ia tak suka jika ia dijodoh-jodohin. Naoki kan masih muda. Anak muda mana sih yang mau diatur-atur oleh orang tuanya? *Haha.. kata-kata saya bener-bener ahjumma banget, ya :p*

Dan tentang impian.. jujur saya iri dengan mereka. Bahkan dengan Kotoko yang saat itu sudah berpikir, “Impianku yang sebenarnya apa, ya..?”

Sinopsis Episode 12

Karena saat saya kuliah, saya mengambil jurusan yang standar, Manajemen. Alasannya? Dibujuk teman. Hahaha.. ababil banget ya saya..

Kami berdua sama-sama lolos UMPTN tapi beda universitas dan beda kota. Hahaha.. ya iya lah.. kalo saya ngeh sama kombinasi-nya matematika, saya punya 3 pilihan, dia punya 3 pilihan, berarti akan ada 9 kombinasi yang berbeda, dan kesempatan saya hanyalah 1/9 untuk bersama dengan teman saya itu.

Tapi menurut Kotoko, universitas adalah tempat untuk mencari impianmu. Tapi saya menemukan impian saya bukan saat kuliah. Tapi sekarang ini. Setelah menikah, saya baru menyadari kalau hobi yang saya tekuni adalah impian saya. Hobi yang saya lakukan sejak SMP adalah passion saya.

Walau terlambat, saya memang menemukan impian saya. Dan ironisnya, hampir 4 tahun saya kuliah dan 5 tahun lebih saya bekerja itu nggak nyambung dengan impian saya.

Haha.. better late than never ya..  *malah curhat*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s