Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 11


  Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 11
 
Setelah kejadian Yuki sakit, waktu berlalu hingga bulan Desember. Saat Kotoko bertanya pada Naoki tentang rencananya di malam Natal, Naoki hanya menjawab pendek, “Kerja.”
 
 
Tentu saja Kotoko kecewa, apalagi Yuko – Matsumoto-chan – mengatakan kalau tak ada pelayan yang bisa libur di malam Natal karena malam itu restoran super sibuk. Yang berarti Yuko dan Naoki akan menghabiskan malam Natal bersama. Ahhh…!! Mau malam Natalan di restoran itu juga mahaaalll… Harus pesan makan untuk 2 orang dengan harga paket 20 ribu yen = 2 juta rupiah. 
 
Aish.. mahalnya. Kotoko saja sampai pingsan dengernya.
 
 
Untungnya Jinko dan Satomi juga tak punya acara di malam Natal. Mereka, walau sudah punya pacar (pacar Jinko anak band, dan pacar Satomi adalah mahasiswa hukum), ternyata tetap tak bisa menghabiskan malam Natal bersama pacar mereka. Pacar Jinko harus manggung di Sendei dan pacar Satomi harus kerja part time.
 
Maka mereka bertiga pun berjanji untuk menghabiskan malam Natal bersama-sama. Tidak boleh ingkar janji!
 
 
Kin-chan pun ingin menghabiskan malam Natal bersama mereka, tapi mereka mengatakan kalau Kin-chan pasti sangat sibuk sekali karena tak ada restoran Tokyo yang sepi di malam Natal. 
 
 
Dan ternyata benar. Restoran Aihara sangat sibuk dari sore hingga malam hari. Full booked! Reaksi Kin Chan saat tahu kalau ia tak bisa cuti itu lucu banget, “Oh! My! God!”
 
 
Janji Kotoko itu ternyata sangatlah berat. Cobaan pertama Kotoko datang dari keluarga Irie. Papa Irie akan mengadakan pesta Natal untuk perusahaannya dan mengajak Kotoko karena Papa Aihara juga sudah menyanggupi untuk datang. 
 
 
Dengan kecewa, Kotoko menolak tawaran itu. Tapi Papa Irie juga kecewa karena mendengar kalau Naoki juga tak bisa datang ke pestanya. Sepertinya Papa Irie ingin sekali anaknya menjadi penerus usaha bisnisnya.  Ih, cemberutnya Papa Irie ini lucu, ya..
 
 
 
Papa Irie akhirnya memanggil anaknya dan memintanya dengan sangat agar Naoki mau datang ke pestanya. Ia tak masalah kalau Naoki memang belum memutuskan akan mengambil alih usahanya. Tapi yang penting Naoki muncul dan berkenalan dengan para rekan bisnisnya.
 
 
Sepertinya Naoki sekarang sedang galau dengan masa depannya. Seperti ucapannya pada Kotoko di apartemennya, ia tak ingin hanya menerima takdirnya sebagai penerus usaha papanya. Dan ucapan Kotoko yang berandai-andai kalau ia ingin Naoki menjadi dokter, sangat mengena di hatinya.
 
 
Sepulangnya dari pertemuan dengan ayahnya, Naoki pergi ke toko buku dan membuka-buka buku Pengantar Ilmu Kedokteran.
 
 
Cobaan kedua Kotoko adalah kenyataan kalau Naoki ternyata menyanggupi permintaan ayahnya untuk datang ke pesta Natal. Ia tahu itu karena Naoki pulang ke rumah untuk mengambil jasnya. Kotoko pun tergoda untuk membatalkan janji itu. 
 
 
Saat Kotoko hendak memutuskan untuk ingkar janji, Naoki berkata, “Kudengar kau akan menghabiskan malam Natal dengan sahabat-sahabatmu. Sayang sekali, padahal rasanya lebih menyenangkan kalau kau ada di sana.”
 
Mendengar hal itu, ibu meminta Naoki  untuk membujuk Kotoko agar membatalkan janjinya, “Jangan percaya dengan janji teman-temanmu, Kotoko. Ini kan malam Natal.”
 
 
Kotoko sudah hampiiiirr saja mengeluarkan persetejuannya untuk datang ke pesta itu. Tapi Naoki malah berkata manis, “Tidak.. persahabatan mereka sangatlah spesial. Benar, kan Kotoko-san?”
 
 
Ih, Naoki paling pinter deh membuat orang gemes. Ditinggal sendirian di ruang tengah, Kotoko memaki-maki Naoki, “Irie-kun kejaaammm…!!”
 
 
Melihat teman-temannya sangat excited dengan malam Natal mereka bersama, membuat hati Kotoko terhibur. Mereka berencana untuk memesan kue yang mahal dari toko di daerah Shibuya dan ayam goreng untuk makan malam.
 
 
Kotoko pun mempersiapkan rumah Irie yang kosong untuk pesta Natal mereka. Ia sudah cukup puas bermalam Natal dengan imajinasinya berdansa dengan Naoki di pesta Natal. 
 
 
Namun cobaan bertubi-tubi datang di malam itu. 
 
 
Jinko ternyata tak bisa datang karena pacarnya pulang ke Tokyo. Acara manggungnya dibatalkan dan pacarnya pulang demi Jinko walau harus menumpang di truk.  
 
 
Satomi juga tak bisa datang karena ternyata pacarnya hanya berpura-pura tak bisa menemaninnya, padahal pacarnya malam itu datang dengan bunga dan kencan makan malam di restoran mahal yang sudah dipesan jauh-jauh hari.
 
 
Jadi tinggallah Kotoko di rumah hanya ditemani oleh acara TV dan mengigiti stik crackers.
 
 
Pacar Satomi ternyata membawa Satomi ke restoran Aihara. Di sana ia bertemu dengan Kin-chan. Setelah menelepon Jinko, Kin-chan pun mengetahui kalau Jinko pun juga tak dapat menemani Kotoko karena pacarnya datang. Ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Kotoko setelah selesai kerja.
 
 
Kin-chan menyiapkan makanan yang ia buat sendiri dengan hiasan ucapan selamat Natal. Ia juga pergi ke swalayan untuk membeli kostum Santa Clause. 
 
 
Namun yang mengetahui kalau Kotoko sendirian di rumah, tak hanya Kin-chan. Tapi Naoki juga tahu. Di jalan, ia melihat Jinko dan pacarnya sedang ngamen menyanyikan lagu cinta. 
 
 
Naoki pun teringat ucapan ibunya yang mengatakan kalau Kotoko tak perlu mempercayai janji teman-temannya. Ia juga masih ingat raut kecewa yang muncul di wajah Kotoko.
 
 
Kotoko yang kelaparan, mencari makanan di dapur. Tapi karena Mama Irie tak masak, jadi tak ada makanan sama sekali kecuali mie instan. Jadilah Kotoko menghabiskan makan malam dengan mie instan tanpa ayam goreng dan kue tart.
 
 
Tiba-tiba di luar terdengar suara orang mencoba membuka pintu. Pintu terkunci tapi orang itu membuka dengan mencoba beberapa kunci. Kotoko tentu saja ketakutan karena sebelum pergi, Papa Irie mengatakan kalau di malam Natal itu, akan banyak pencuri berkeliaran di rumah-rumah kosong.
 
 
Tapi Kotoko tak menyerah. Walau mulanya ketakutan, ia pun mempunyai ide untuk mengusir pencuri itu dengan raket tenis yang ia ambil dari kamar. Pencuri itu sudah masuk rumah saat Kotoko sedang mengambil raketnya. 
 
 
Kotoko mengendap-endap dan saat pencuri itu di dekatnya, ia langsung memukul pencuri itu dengan pinggiran raketnya.
 
 
“Apa yang kau lakukan?” seru Naoki.
 
 
Kotoko membuka mata, “Irie-kun?” Kotoko terbelalak melihat yang datang ternyata Irie dan ia telah memukul kepalanya! “Maaf. Apakah kau baik-baik saja?”
 
 
Tentu saja tidak, karena Kotoko memukul tepat di kepala Naoki. Setelah pulih rasa kagetnya, Kotoko malah tertawa terbahak-bahak, membuat Naoki bertanya mengapa Kotoko malah tertawa.
 
 
“Kau tampak keren,” jawab Kotoko masih tertawa-tawa, “Tapi kepalamu terpukul.. dan di rumahmu sendiri pula!”
 
Naoki kesal karena yang melakukannya adalah Kotoko, malah Kotoko juga yang tertawa. Kotoko buru-buru minta maaf, walau tetap tak bisa menyembunyikan tawanya.
 
 
Sibuk dengan rasa geli akan kejadian barusan, Kotoko tak menyadari kalau pandangan Naoki kepadanya saat itu benar-benar berbeda.
 
 
Kotoko kembali minta maaf dan mengompres kepala Naoki. Kotoko bercerita kalau acara malam Natalnya gagal karena pacar dua temannya itu datang. Naoki pun memberitahu kalau ia pulang cepat dari pesta ayahnya karena bosan dengan pesta itu. 
 
 
Tapi pertanyaannya, kalau memang hanya bosan, kenapa Naoki malah pergi ke rumahnya dan bukan ke apartemennya? Kita tahu jawabannya, tapi kan Kotoko tidak tahu.. 
 
 
Tentu saja Kotoko tak menanyakan hal itu karena ia mencium bau makanan. Ternyata Naoki membawa ayam goreng yang katanya hanya buat ia sendiri, karena ia lapar. Tapi ya kenapa Naoki beli paket yang family size, ya?
 
 
 
Dan kalau lapar, kenapa Naoki hanya minum saat Kotoko makan ayam goreng dengan nikmatnya?
 
 
Kotoko mematikan lampu utama dan menyalakan lampu-lampu hiasan. Pada Naoki ia berkata kalau ia sudah mempersiapkan untuk pesta ini untuk Jinko dan Satomi. Ia tak pernah merayakan pesta Natal dengan keluarganya karena ibunya meninggal saat ia kecil dan ayahnya selalu sibuk di restoran setiap malam Natal. 
 
 
Naoki hanya terdiam mendengarkan cerita Kotoko. 
 
 
Dan Kotoko pun memutuskan untuk pergi ke swalayan untuk membeli kue tart, “Sangat sayang sekali kalau merayakan malam Natal tanpa kue Tart.”
 
 
“Kita punya satu,” celetuk Naoki tiba-tiba.
 
 
“Apanya?” tanya Kotoko tak mengerti.
 
“Kue.”
 
 
Kotoko tertegun. Ternyata Naoki membeli kue tart itu dan menaruhnya di meja depan pintu. Walau reaksi Kotoko yang pertama adalah, “Waaahhh… apakah ini dari Santa?”
 
LOL, segede gini masih percaya adannya Sinterklas. Naoki langsung membantahnya, “Jangan aneh-aneh..” Dan Kotoko pun bertanya, “Jadi ini darimu?”
 
“Siapa lagi?”
 
“Mungkinkah karena kau tahu aku ada di rumah dan kau membelikan ini untukku?” tebak Kotoko masih terpesona.
 
Tebakan yang benar, tapi mana mungkin Naoki mau mengakuinya. Ia meraih kue itu dan menjawab, “Bagaimana mungkin kau begitu percaya diri? Aku membelinya karena teman kerjaku mendesakku untuk membelinya. Ia tak dapat pulang kerja kalau ia belum menjual kuenya yang terakhir.”
 
 
Kotoko hanya tersenyum-senyum mendengar jawaban Naoki.
 
 
Kotoko menaruh dua lilin dan menyalakannya. Ia meminta Naoki untuk membuat harapan, tapi jawaban Naoki malah, “Itu kan untuk kue ulang tahun.” Kotoko hanya senyum-senyum, sadar akan kesalahannya. 
 
 
Kotoko berterima kasih akan tart yang dibelikan Naoki, tapi Naoki tetap bersikeras kalau ia tak membeli kue itu untuk Kotoko. 
 
“Tapi ukuran kue ini hanya untuk dua orang.”
 
“Cuma kebetulan.”
 
 
“Kau bisa memakan kue di bagian Santa-nya.”
 
“Aku tak peduli.”
 
Aihh…Naoki.. Cueknya itu karena tak peduli atau malu, ya?
 
 
Kin-chan datang dengan kostum Sinterklas, lengkap dengan karung hadiahnya. Ia berniat memencet bel di depan rumah, tapi memutuskan untuk lewat belakang dan memberi kejutan pada Kotoko.
 
 
Di belakang, ia heran melihat rumah Kotoko gelap. Ia mengintip dan tertegun melihat kalau Kotoko tak sendiri.
 
 
Kotoko tetap menyuruh Naoki untuk membuat sebuah harapan. Naoki bertopang dagu, seakan berpikir,  kemudian menatap Kotoko dan menjawab, “Kalau begitu, kau yang membuat harapan.”
 
 
Mata Kotoko berbinar, “Bolehkah?”
 
 
Naoki mengangguk dan Kotoko pun tersenyum. Ia memejamkan mata dan berdoa. Kemudian meniup kedua lilin itu.
 
 
Komentar :
 
 
Ahhh… kesian banget Kin-chan. Kalau Naoki-nya nggak se-care ini sama Kotoko, saya udah shipping Kin-chan kemana-mana deh.. 
 
Tapi sayang, Naoki yang ini perhatian banget sama Kotoko. 
 
 
Wajah Naoki menunjukkan tak peduli, tapi sikapnya tidak. Saat di restoran saja perlakuannya sudah berbeda dibanding saat Kotoko datang dengan Ibu dan Yuki. Ia selalu datang setiap Kotoko memanggilnya hanya untuk refill kopi atau air putih.
 
Ia juga tak melupakan ekspresi kecewa Kotoko saat tahu kalau ia akan datang ke pesta ayahnya.
 
Ia juga mempertimbangkan ucapan Kotoko yang menginginkannya menjadi dokter dan percaya kalau Naoki akan menjadi dokter yang handal.
 
Dan bagaimana Kin-chan bisa menang lawan Naoki yang membawa ayam goreng dan tart, 2 hal yang diharapkan Kotoko di malam Natal?
 
 
Dan kesempatan untuk make a wish. Entah ya.. tapi menurut saya pada saat Naoki memberi kesempatan Kotoko untuk make a wish, menggantikannya, saat itulah Naoki ingin mengatakan kalau ia akan memenuhi harapan Kotoko.
 
Harapan yang mana, ya? Harapan Kotoko yang ingin melihat Naoki menjadi Dokter atau harapan Kotoko ingin menjadi pacarnya? 
 
:)))
 
 
Tapi tiap inget perasaan Kin-chan ini, rasanya sedih banget. Semoga aja akan ada jodoh untuk Kin-chan seperti yang di anime.
Yang lain di Kdramaland :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s