Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 4


Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 4

Episode 4 : Apakah coklat adalah jimat cinta?

“Waktu berlalu dengan cepat. Summer, fall dan akhirnya winter.. aku bahagia aku bisa diterima di sebuah kampus. Tapi hubungan antara irie-kun dan aku tidak ada perkembangan. “

Kotoko berjalan ke sekolahnya bersama dengan naoki tapi Naoki berjalan agak jauh didepannya

Kotoko, satomi dan jinko pergi ke acara tahun baru ke kuil dikotanya. Satomi dan jinko memakai Yukata sementara kotoko memakai kimono yang dibantu ibu irie saat memakainya. Kotoko terlihat sangat cantik dengan kimono warna merah itu.

Mereka bertiga ternyata diterima di Universitas Tonan semua jadi mereka akan tetap bersama.

Mereka pergi ke altar kuil untuk berdoa. Setelah memasukkan koin dalam kotak persembahan mereka lalu berdoa.

Doa satomi “aku harap aku punya masa kuliah yang menyenangkan”

Doa Jinko :” aku harap aku punya pacar tahun ini”

Lalu keduanya diam menunggu doa kotoko, tapi tak ada sepatah kalimatpun yang keluar dari mulut kotoko. Satomi dan Jinko membuka matanya dan saling menatap. Mereka melirik ke kotoko yang sedang sangat serius berdoa.

“tanpa banyak kata, itu sudah jelas apa yang dia harapkan” ucap jinko.

Mereka lalu mengambil kertas ramalan mereka. Kotoko yang pertama berteriak kegirangan melihat isi kertas ramalannya. “yeahhh.. aku dapat ramalan keberuntunganku!” kotoko mulai membaca kertas ramalannya “orang yang kau tunggu akan datang”

“Bagus kotoko” seru jinko

Satomi ikut membaca kertas ramalannya: “orang yang kau tunggu tidak akan datang tapi kau akan dapat kabar tentangnya”

Jinko membaca punyanya : “dia tidak akan datang jika kau terlalu ambisius”

Ditempat lain kin-chan sedang bersedih karena ia tidak diterima di universitas tonan karena nilainya jelek. Ia minta 2 sahabatnya untuk tidak memberitahu kotoko klo ia tidak kuliah.

Dirumah keluarga irie mereka semua berpesta memberi semangat pada kotoko karena diterima di universitas tonan. Ayah sudah mempersiapkan berbagai makanan dan bahkan roti tart.

Bapak dan ibu irie memberi ucapan selamat pada kotoko tapi Naoki dan Yuki tidak memberi ucapan.

Bapak Irie lalu mengatakan klo Naoki juga akan menyusul kotoko mencari universitas.

Yuki menjawab langsung “dia tidak sebodoh kotoko, dia akan masuk ke universitas Tokyo”

“yuki..” seru ayah tidak suka.

Kotoko teringat sesuatu “oh ya..” katanya mengambil sesuatu di belakang kursinya. Ia mengambil bungkusan dan memberikannya pada naoki. “irie kun.. ini untukmu.. aku bisa masuk universitas ini semua karenamu menolongku belajar.. itu barang kecil”

“wah manisnya.. cepat buka Naoki.” Kata Ibu irie ingin tau. Naoki membuka bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. Ia heran melihat kado itu yang isinya berbentuk kyk pengocok telur. Kotoko tersenyum menunggu kata-kata Naoki.

Yuuki mengambil barang itu dari tangan kakaknya “apa ini?” tanyanya ingin tau

“itu alat pemijat kepala.” Jawab kotoko.

“ohhh.. “tawa semuanya yang sepertinya juga baru tau klo alaat itu adalah alat untuk pemijat kepala.

“irie-kun ambil ujian masuk Universitas Tokyo kan? Dia perlu banyak belajar, jadi..” kotoko grogi melihat naoki yang didepannya. Naoki menatap kotoko masih heran dengan harian pemberian kotoko. Yuki mengambil pemijat itu “ ini mirip pengaduk..lebih cocok untuk orangtua” ejek yuki ceplas ceplos.

“hey yuki..”ibu irie jadi tidak enak sendiri “jangan pikirkan… Kenapa kau tidak mencobanya saja Naoki?”

“tidak apa-apa.. lagian itu bukan hanya universitas Tokyo, aku belum memutuskan ingin pergi ke universitas mana.” Semua terkejut dengan kebimbangan Naoki. Kedua orang tuanya terutama bapak irie tentu saja berharap naoki dapat pergi ke Universitas Tokyo yang terkenal itu dan juga kampus ayah naoki juga.

“yuki, aku akan mencoba itu” seru bapak irie meminta pijatan kepala itu. “bagimana cara kerjanya ini” katanya melihat pemijat itu.

Kotoko tidak bergerak dari kursinya, ia masih tak percaya naoki belum tau universitas yang ia inginkan.

“irie kun dapat masuk universitas Tokyo tanpa masalah tapi dia bilang dia mungkin tidak ingin pergi ke universitas? Sebenarnya apa yang terjadi?”

Kotoko dan 2 sahabat berjalan melewati kelas A, kelas khusus anak genius. Mereka terlihat serius belajar untuk persiapan masuk universitas Tokyo. Sedangkan dia dan kedua temannya tidak bingung lagi menentukan universitasnya karena sudah diterima di univeritas tonan. Kotoko melihat didalam hanya naoki yang terlihat santai membaca buku lain.

Pulang sekolah kotoko pinjam perlengkapan menjahit ibu irie untuk membuatkan jimat naoki.

1 hari menjelang ujian masuk universitas Tokyo

Jimat yang dibuat kotoko akhirnya selesai , karena besok adalah hari ujiannya maka malam-malam kotoko pergi ke dalam kamar naoki untuk memberikannya.

Kotoko mengetuk pintu kamar naoki pelan. “ya? “ Tanya naoki dari dalam kamarnya. Kotoko membuka pintu kamar Naokii dan melihat didalam naoki terlihat sangat sibuk belajar. “bisakah aku menganggumu sebentar?” tanyanya.

Naoki tidak menjawab jadi kotoko masuk ke dalam kamar naoki. Kotoko meletakkan jimat keberuntungannya di atas meja naoki .

Naoki melirik jimat buatan itu sekilas lalu beralih lagi ke bukunya. “test nasional kan besok jadi kau akan ikut kan?”

“aku akan memasukkan aplikasi ku.”

“syukurlah.. jika kau tidak punya sekolah yang kau inginkan maka orangtuamu pasti akan senang jika kau bisa masuk universitas Tokyo. Aku selalu saja menyusahkan ayahku. Aku berharap punya kesempatan sepertimu untuk membuat ayahku bahagia.” Naoki tidak memberikan respond apa-apa, tapi sepertinya ia memikirkan sesuatu. “yah begitu saja ya..” pamit kotoko keluar dari kamar naoki. Sebelum sampai pintu ia mendengar suara naoki.

“apa yang kau rencanakan di universitas?”

Kotoko berbalik melihat ke naoki “apa yang aku rencanakan? Aku akan belajar dan punya banyak teman”

“kau kesana untuk belajar.. itu hal yang tidak kau nikmati.”ejek naoki “aku tak mengerti mengapa setiap orang begitu ingin sekali pergi ke universitas.”

“aku tau kampus harusnya untuk orang-orang yang sepertimu belajar” sahut kotoko

“aku tak ingin pergi ke universitas.” Kata naoki “aku tak ingin seseorang mengajari di kampus. Aku bisa belajar sediri.” Hmm.. naoki sombong bgt dehh…

“tapi itu untuk mendapatkan qualifikasi tertentu yang ingin kau lakukan kedepan”

Noaki menatap kotoko “apa yang ingin kau lakukan?”

“aku tak tau… tapi….”kotoko berpikir “aku tau.. kau akan tau apa yang kau ingin lakukan saat kau di universitas dan apa yang kau ingin lakukan kedepannya.”

Naoki menatap kotoko seperti .. terkagumm or apa ya… pokoknya pandangnnya gmn gitu..

“kau jangan gunakan otak pintarmu hanya untuk dirimu saja, kau perlu melengkapinya untuk perkembangan jepang” sambung kotoko seperti anggota dewan terhormat kita saja.. hehehhe

Naoki tertawa.. “kau hebat juga ya… aku selalu berpikir..”mengapa dia begitu bekerja keras dalam banyak hal?” kotoko tersenyum mendengar pujian naoki “dan dia melakukan sepenuhnya dalam melakukan sesuatu.. tapi mengapa dia tak bisa melakukannya?” aku kagum..”

“kau benar benar sarkastik.” Ucap kotoko. Naoki diam tenggelam dalam lamunannya “aku harap aku bisa melakukan itu.” Gumam naoki pelan. Lalu ia menyadari kata-kataya. Ia menoleh pada kotoko “aku besok harus bangun pagi. Lebih baik aku tidur sekaranng.”kata naoki.

“baiklah selamat tinggal” naoki berjalan pergi. “bisa aku letakkan jimat ini di tasmu?” naoki diam saja tak menjawab. Kotoko lalu mengikat jimat itu pada tas naoki dengan senangnya.

Pagi harinya semua sudah berkumpul dimeja makan. Naoki belum turun untuk bergabung dengan yang lainnya.

“naoki terlambat” ucap ibu irie gelisah

“jangan bilang klo dia tidak akan ikut test.” Kata bapak irie

“jangan kuatir, dia tau perasaaanmu mengenai ini.” Jawab ayah

“tapi dia terkadang keras kepala.” Sahut bapak irie

Naoki datang membuat semua kaget melihatnya. Naoki heran semua hanya menatapnya tanpa bicara apapun. “ada apa? “ Tanya naoki

“oh naoki.. ohayo..” semua langsung tersenyum lega. Ibu irie memberikan kotak makan siang naoki untuk dibawanya. Tiba-tiba naoki terbatuk batuk membuat semuanya jadi kuatir.

“kenapa naoki?” Tanya bapak irie

“aku agak panas, sepertinya aku kena demam” Jawab naoki

“disaat penting seperti ini?” Tanya bapak kuatir…

“ini tidak baik.. kita butuh telur..” ibu berlari untuk mengambilkan telur. Semua langsung berlari panic mencarikan obat untuk mengatasi sakitnya naoki.

“semua baik-baik saja.. aku pergi sekarang.” Seru naoki yang ditinggal semua orang.

ibu datang membawa telur rebus “bagaimana dengan breakfastmu?”

“aku tak punya selera. Ini sudah cukup” sahut naoki mengambil sebuah roti.

“irie-kun… irie-kun” panggil kotoko berlari lari “minu obat ini. Ini sangat manjur.” Kata kotoko menyodorkan obat pada naoki.

Naoki meletakkan rotinya dan segera mengambil obat yang diberikan kotoko.

“untunglah” kata bapak irie lega

“aku lupa bertanya.. apakah ini menyebabkan kantuk?” Tanya naoki sambil mengambil bungkus obat yang diminumnya tadi.

Kotoko jadi ingat ia belum membaca tulisannya, ia merebut tempt obat itu dari tangan naoki dan membaca. “jangan mengendarai setelah meminum obat ini” baca kotoko. Semua terkejut saat tau klo obat itu mengandung obat tidur.

“naoki muntahan.. ayo muntahkan” seru bapak irie panic menepuk-nepuk punggung naoki agar obat di muntahkan.

“irie-chan, aku akan memeganginya. Taruh tanganmu dimulutnya!” seru ayah kotoko mencoba membantu bapak irie. “yuki cepat ambi baskom.. cepat!”seru ibu irie. yuki segera berlari untuk mengambil baskom didapur.

“cukup!! “ teriak naoki melepaskan diri dari pegangan ayah dan bapak irie. “aku pergi sekarang” naoki segera berjalan ke pintu.

“aku harap irie kun baik-baik saja”

Naoki bertemu dengan temannya, watanabe di stasiun… dia sahabatnya naoki di SMA.

Watanabe melihat jimat keberuntungan yang tergantung ditas naoki. “apa gadis yang tinggal bersamamu yang membuatnya?”

Naoki melihat jimat itu “ akan aku buang di lokasi test” jawab naoki

“aku kasihan padanya jika kau lakukan itu. Dia itu sebenarnya typku” kata watanabe

Mereka masuk kedalam lift yang penuh orang, naoki meletakkannya dikakinya dekat pintu lift. Saat naoki mau keluar, ia terkejut ternyata jimat itu kecepit pintu lift. Naoki mencoba menariknya tapi tetap tak bisa. Naoki minta maaf pada orang-orang yang akan naik lift karena liftnya nggak bisa dipakai. Naoki meminta watanabe pergi duluan.

Setelah watanabe pergi naoki memencet tombol emergency lift dan menginformasikan klo lift rusak.

Naoki tepat datang beberapa menit sebelum acara dimulai. Watanabe menunggu naoki didepan lokasi test. Mereka berjalan menaiki tangga ke ruang test.

Watanabe “bagaimana dengan jimatnya?”

Naoki mengangkat tasnya memperlihatkan jimat yang masih tergantung ditasnya “ ohh.. masih ada disini”

Watanabe “jangan-jangan itu malah sial untukmu”

“iya aku harus melepasnya..” naoki meraih jimat itu dan dengan mudah jimat buatan kotoko itu lepas ke lantai. “lihat begitu mudah terlepas” ucap naoki tertawa. Naoki membungkuk untuk mengambil jimat yang terjatuh itu, namun sialnya didepannya ada orang yang turun tangga dan menabrak naoki.

Keduanya langsung terjatuh bergulingan ditangga. Karena kejadian itu naoki terpaksa aku pergi ke ruang kesehatan dulu.

Test sudah dimulai dan Naoki belum masuk ke kelas ujian. Watanabe ikut kuatir naoki tidak bisa lolos test.

Waktu ujian tinggal 30 menit lagi saat naoki akhirnya masuk kelas ujian dengan memakai krak.

Naoki duduk dikursinya siap untuk mengerjakan testnya. Ia membuka tempat pensilnya dan ia melihat semua pensil yang dibawanya tumpul, mungkin karea ia terjatuh tadi. Watanabe lalu meminjamkan pensilnya pada naoki.

Saat istirahat ujian, naoki mengambil kotak makan siangnya. Saat dibuka kotak makanannya terlihat tulisan “kau dapat melakukannya” dan nasinya dibentuk muka-muka lucu. Naoki langsung menutup kotak makanannya kesal. Watanabe memberikan rotinya pada naoki. Kuatir klo nanti naoki sial kena diare jika makan makanan itu.. eheheheh..

Watanabe bilang lebih baik naoki segera membuang jimat buatan kotoko . Naoki tersadar klo sejak kejadian ditangga itu, jimatnya sudah tidak ada padanya. Setelah menyadari itu sepertinya naoki mempertimbangkan sesuatu.

Test kedua berlangsung lebih parah buat Naoki karena ia sempat tertidur saat mengerjakannya sampai guru penjaga membangunkannya dan mengirformasikan klo test kurang 10 menit lagi.

Naoki langsung panic dan buru-buru mengerjakannya..

Pulang test Naoki bertemu dengan petugas ruang kesehatan. Dia bilang klo ia menemukan jimat naoki jadi ia meletakkannya disaku jas naoki.

Naoki merogoh sakunya. Dan disana memang ada jimatnya. Watanabe langsung berseru “sepertinya kau dan gadis itu akan tetap bersama selamanya”

“jangan berkata seperti itu” sahut naoki meremas jimatnya.

Hari itu benar-benar hari sial buat naoki.

Di rumah keluarga irie semua gelisah menunggu naoki yang belum pulang juga. Saat mendengar pintu dibuka. Ib irie, kotoko dan yukki langsung berlari ke pintu masuk. Mereka terkejut melihat kondisi naoki yang datang membawa krak dan muka yang dibalut.

“apa yang terjadi naoki?” Tanya ibu panic

“aku terjatuh” jawab naoki

“ahh terlihat parah sekali” ibu jadi kuatir lihat kondisi naoki.

“jimatnya sepertinya tidak bekerja..” kata kotoko. Mendengarnya kekesalan naoki jadi bangkit. Ia menaruh kraknya dengan keras.

“itu benar-benar bekerja” ejek naoki

“apa maksudmu itu?” Tanya kotoko

“jangan pikirkan. Aku akan ke kamarku” sahut naoki ketus. Naoki lalu naik kelantai atas , disusul yuki yang menguatirkan kondisi kakaknya.

Di SMA tonan, kotoko kuatir klo naoki tidak lolos ujian masuk. Tapi dari satomi ia kahirnya lega mendengar naoki lulus ujian itu dan bisa ikut ujian di universitas Tokyo. Kotoko senang dan berjalan melewati kelas naoki. Ia bertemu naoki dijalan.

Naoki “ thanks untuk jimatmu, aku bisa ikut test universitas Tokyo”

Naoki tersenyum, begitu juga naoki.

Naoki lalu mendekati kotoko dan bersiap mencium kotoko.

“hati-hati..!” teriak watanabe menyadarkan kotoko klo ia tadi mengkhayal saja. Ia hamper saja menabrak watanabe dilorong sekolahnya.

“oh kau dari kelas A ya?” Tanya kotoko. Watanabe langsung berlari ketakutan kena sial jika bertemu kotoko.

Kotoko berlari menyusul watanabe “ada apa? Apa itu berhubungan dengan hasil test?”

Watanabe berhenti “seperti dugaanku, irie tidak bisa mengerjakan ditest ya?” watanabe tidak tau klo naoki lolos ujian hari pertama itu.

“apa maksudmu? Irie-kun dapat mengerjakannya. Dia dapat ikut ujian di universitas Tokyo” jawab kotoko gembira,.

“heihhhh…?? Hebattt.. dalam kondisi seperti itu?” watanabe terkagum dengan kepandaian naoki.

“kondisi seperti itu?”

“itu aadalah bencana.. aku blom pernah melihat irie seperti itu. Meski itu diakibatkan Karen jimat itu. ” “karena jimat?” Tanya kotoko kaget. Watanabe juga terkejut menyadari ia keceplosan bicara. Watanabe langsung pergi menghindari kotoko. “tunggu.. apa yang kau katakana?” Tanya kotoko penasaran. Kotoko mendesak watanabe yang terus mundur menghindari kotoko sampai mereka da ipuncak tangga. Watanabe melihat ke bawah tangga dan jadi ketakutan klo ia akan terjatuh seperti naoki.

“jangan.. aku akan memberi tahumu!” seru watanabe panic takut didorong kotoko ke bawah. Kotoko melihat kebawah dan terkejut mereka ada diujung tangga atas. Ia melepaskan pegangan tangannya pada watanabe.

Watanabe lalu menceritakan kejadian saat ujian itu pada kotoko.

Kotoko pulang dengan penuh penyesalan atas jimat yang diberikannya pada naoki “ semua masalah disebabkan oleh jimat itu. Aku telah membuat irie kun dalam berbagai masalah.” Batin kotoko dijalanan ke rumah. Kotoko jadi menangis sedih.

Dirumah kotoko membuat coklat bentuk hati untuk naoki.

“aku harap irie-kun dapat lolos ujian untuk masuk universitas Tokyo dan mimpi keluarha irie akan jadi nyata. “

Kotoko menulis di coklat itu “selamat sudah lolos ujian universitas Tokyo” padahal ujian saja blom dimulai. Tapi ia menulis itu karena ia yakin naoki akan dapat melakukannya.

Setelah itu ia membungkusnya dan menaruhnya kedalam lemari es.

“aku tau ini terlalu dini tapi sehari setelah ujian, yaitu saat valentine, aku akan memberikan ini padanya”

Kotoko melihat keluar jendela dan ia melihat bintang jatuh lagi. ia segera membuat permohoan dalam hatinya.

Hari ujian masuk universitas Tokyo.

Semua mengantar naoki didepan pintu, mereka mencemaskan keadaan naoki. “aku pergi dulu tapi kalian tak perlu datang mengantarku pergi.”

“tapi kami sangat kuatir” sahut ibu

“apa kau mau kami mengantarmu?” Tanya bapak irie

“tidak usah.. kakiku sudah baikkan. Aku pergi dulu” pamit naoki meninggalkan keluarganya.

Kotoko teringat ucapan watanabe saat naoki ikut ujian waktu itu. Ia segera berlari untuk mengambil jasnya.

“kotoko-chan” seru ibu irie melihat kotoko berlari-lari untuk keluar rumah.

“aku akan pergi mengawasi naoki sampai dia masuk jembatan di universitas Tokyo. Aku kuatir sesuatu akan terjadi” sahut kotoko. Semua terkejut dengan keputusan kotoko untuk mengawasi naoki tapi mereka tidak bisa berbuat banyak.

Kotoko mengawasi naoki dari jauh . ia harus brsembunyi dibalik pepohoan klo tau naoki menoleh ke belakang. Naoki menyadari klo I sedang diikuti. Bagaimana ia tidak tau klo jalan yang mereka lewati sangat sepi.

“terlihat sekali klo kau mngikutiku” seru naoki berhenti berjalan

“aku hanya ingin melihatmu sampai didepan universitas Tokyo. “ naoki tidak menjawab dan melangkah lagi.

Kotoko ikut berjalan lagi dan tidak menyadari klo dibawahnya ada kulit pisang. Ia menginjak kulit itu dan ia terpeleset.

“ahh aku terpeleset” teriaknya tanpa sadar. Naoki berbalik melihat kotoko.

Kotoko langsung berdiri tegak “maaf aku terpeleset didepan orang yang ikut ujian” katanya.

Naoki tidak tertawa atau marah, ia lalu melangkah lagi.

Setelah terpeleset itu, kotoko merasa perutnya agak sakit tapi ia tetap mengikuti dibelakang naoki sampai didekat lokasi kampus universitas Tokyo.

Kotoko masih merasa sakit pada perutnya jadi ia berjalan agak lambat. Kotoko melihat siswa-siswi yang mau ikut ujian seperti naoki.

Naoki menoleh kebelakang dan melihat langkah kotoko agak aneh. Kotoko terus memegangi perutnya.

“kenapa jalanmu aneh?” Tanya naoki.

“ah tidak.. aku berjalan seperti biasa kok..” sanggah kotoko. Naoki mengamati wajah kotoko yang agak pucat “ kau juga terlihat sakit”

Kotoko tertawa “ahh aku hanya grogi saja kok”

“mengapa kau yang grogi? Kan aku yang ikut ujian” kata naoki dan berjalan lagi.

Kotoko merasa perutnya semakin sakit “apa yang harus kulakukan.. aku belom pernah sakit perut seperti ini” batin kotoko berjalan membungkuk kesakitan. “tapi tak boleh.. tidak sampai aku melihat irie-kun masuk ke jembatan universitas Tokyo. Aku tak mau membuatnya kuatir”

Mereka sudah sampai di jalan sebrang universitas Tokyo. Ini lokasi jembatan (ga ada jembatannya Cuma penyebrangan). Mereka berjalan bersisian, naoki heran melihat kotoko yang terlihat sakit “ hey apa kau benar-benar tidak apa-apa?”

“tentu saja.. semoga beruntung dengan ujianmu” sahut kotoko memberi semangat naoki.

Naoki lalu pergi menyebrangi jalan menuju kampus universitas Tokyo. Kotoko sepertinya sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya “kamar mandi.. kamar mandi” gumam kotoko kesakitan mau pergi ke kamar mandi.

Kotoko tak bisa menahan rasa sakitnya lagi dan ia terjatuh di trotoar. Orang-orang langsung berteriak melihatnya dan orang yang disana mengerumuninya.

Naoki yang baru menyebrang mendengar teriakan itu, ia menoleh kebelakang dan melihat kotoko terjatuh di trotoar itu. Naoki langsung berbalik berlari mendekati kotoko.

“permisi “ ucap naoki pada orang yang mengerumuni kotoko. Ia lalu membopong kotoko “apa kau baik-baik saja?” Tanya naoki kuatir.

Naoki bertanya lokasi rumah sakit dan seorang gadis menunjukkan padanya. Naoki segera pergi menuju rumah sakit dengan kotoko di gendongannya. Naoki berjalan agak berlari dan sesekali melihat wajah kotoko.

“irie-kun.. kau harus pergi ke ujian itu… irie-kun kau akan terlambat.. pergilah ke ujian itu.. bapak ibu irie, yuki.. mereka sangat berharap padamu..

Kotoko terbangun dirumah sakit dengan bapak ibu irie dan ayah yang terlihat panic menatapnya.

“mengapa aku disini?”Tanya kotoko

“apa kau baik-baik kotoko-chan? Tanya ibu irie

“kau menderita radang usus buntu akut” kata ayah “kau baik-baik saja sekarang karena mereka sudah memberikan pengobatn padamu. Kau bisa pulang nanti malam”

“senang melihatmu baik-baik saja kotoko-chan” ucap bapak irie. Kotoko bangun untuk duduk dibantu ibu Irie. Ia melihat sekeliling kamarnya mencari seseorang. “apa yang terjadi dengan irie-kun?”tanyanya kuatir.

“saat kami tiba disini, dia sdh tidak ada. Dia mungkin sudah pergi ke universitas setelah menelpon kami. Aku rasa ia sekarang sudah ada dipertengahan ujian”jawab ibu irie menenangkan kotoko dan Bapak Irie.

“baguslah.. “gumam kotoko lega. “jika ia tidak bisa ikut ujian karena aku.. jika hidupnya dalam masalah.. aku jadi kuatir”

“kotoko-chan, kau begitu peduli pada Naoki meski kau sakit seperti ini..”ibu irie terharu menyentuh kotoko dengan saying.

“apa kau mencari aku” suara Naoki tiba-tiba ada diantara mereka, semua langsung menoleh ke sumber suara.

Naoki berdiri didepan pintu menatap ke semua yang mengerumuni kotoko. Semua terkejut melihat Naoki masih dirumah sakit. Apalagi Bapak Irie yang amat sangat mengharapkan Naoki bisa ke universitas Tokyo.

“naoki bukankah kau harusnya mengikuti ujian?”Tanya ayah panik. Naoki mendekat ke mereka “aku lapar jadi aku pergi membeli makanan.” Jawab Naoki santai, semua terkejut mendengar jawaban Naoki yang santai itu.

“lalu bagaimana dengan ujian? Bagaimana dengan universitas Tokyo?”Tanya ibu Irie

“universitas Tokyo? Aku tidak ikut ujian itu.” Jawab Naoki

“hahh?!!!” semua shock mendengar pengakuan naoki itu.

“Ah tidak…”gumam kotoko sedih. Ayah langsung berlutut didepan bapak ibu Irie.

“irie-chan, ibu Irie dan naoki… aku minta maaf.. karena putriku, putramu mendapatkan kesulitan” seru ayah menunduk didepan sahabatnya itu. Bapak irie membangunkan ayah kotoko yang masih berlutut itu.

“sudah angkat kepalamu.. itu adalah keputusan Naoki untuk tidak ikut ujian.”

“iya itu benar..” sahut ibu irie ikut mencoba membagunkan ayah kotoko yang masih berlutut itu.”dan meski dia bisa ikut ke universitas Tokyo. Aku akan kecewa karena dia meninggalkan kotoko dalam kesakitan.”

“iya benar.. benar.. ini adalah takdirnya. Jangan kuatir, ayo angat kepalamu” sahut bapak irie. Naoki hanya tertunduk diam saja. Sementara kotoko mencoba menatap naoki diam-diam dengan sedih.

“karena aku… hal yang terburuk terjadi pada keluarga Irie-kun”

Malam harinya Kotoko perlahan-lahan turun dari tangga rumah keluarga Irie. Dia memakai baju hangat, syal dan ditangannya ia membawa kopernya turun. Ia meninggalkan sebuah surat untuk keluarga Irie diatas meja makan. Kotoko lalu meninggalkan rumah keluarga Irie yang sudah lama ditempatinya itu. Ia menoleh kebelakang melihat ke rumah keluarga irie lagi.

“kepada keluarga Irie.. terima kasih untuk semuanya.” Kotoko melihat rumah itu sangat lama “sayonara irie-kun” katanya dan berbalik pergi meninggalkan rumah keluarga Irie.

Kotoko terus berjalan melamun menyusuri jalanan dekat rumah keluarga Irie. Ia menunduk, menyesali apa yang terjadi.

“aku tak mau memberimu masalah lagi. Aku akan tinggal dimanapun yang kau tak bisa melihat aku.”

Kotoko tersadar dari lamunannya dan menatap sekelilingnya “kemana aku harus pergi” kotoko baru menyadari klo ia tak punya tempat tujuan lain untuk menginap. Udara sangat dingin membuatnya kedinginan meski sudah memakai jaket tebal dan syal dilehernya. “sangat dingin” gumam kotoko mengusap usap tangannya yang kedinginan tanpa sarung tangan.

“lalu apa kau mau memegang kaleng kopi (panas)?” Tanya suara Naoki didekatnya. Kotoko terkejut dan berbalik melihat Naoki yang ada dibelakangnya.

“irie kun..”

Naoki mendekati kotoko. “apa yang terjadi?” Tanya kotoko heran melihat Naoki yang masih jalan-jalan ditengah malam itu.

“aku tak bisa tidur jadi aku berjalan-jalan.” Jawab naoki dan menyodorkan sebuah kaleng kopi panas yang barusan dibelinya tanpa melihat kearah kotoko. Kotoko mengambilnya dan menghangatkan tangannya dengan kaleng kopi panas itu “hangat..”ucap kotoko pelan.

Naoki menatap kotoko dan membuat kotoko jadi panik sendiri. “jangan cegah aku..” seru kotoko “aku tak mau mengganggumu lagi.”

Kepedean banget kotoko yahh.. dikiranya Naoki menysulnya untuk mencegahnya pergi.. hihihihi

“aku tak mencegahmu..” jawab Naoki.. hmmm berarti Naoki sudah baca tuh surat perpisahan kotoko.

Kotoko agak kecewa dengan jawaban Naoki yang cuek dengan kepergiannya itu.

“klo begitu, sayonara” kata kotoko merengut kecewa dan melangkah pergi menarik kopernya.

“apa kau pergi karena aku tidak pergi ke universitas Tokyo?” seru Naoki dibelakangnya. Kotoko menghentikan langkahnya “aku pikir aku membuat nasib buruk padamu” sahut kotoko tanpa berbalik melihat naoki. “tidak hanya di universitas Tokyo tapi juga di test nasional.. aku mendengarnya dari wtanabe dari klass A.” kotoko berbalik menatap naoki “aku mungkin orang yang menyedihkan bagimu “

“kau mungkin benar” sahut naoki melangkah didepan kotoko“memang benar semua tidak berjalan dengan baik saat kau ada disekelilingku. Kau selalu saja merusak langkahku. Orang-orang di sekolah menyebarkan rumor tentang kita… kau membuatku membantumu belajar.. dan akhirnya kau merusak di ujian masuk universitasku”

“aku benar-benar mengerikan” gumam kotoko

Naoki terdiam melamun “tapi…. Itu sangat menyenangkan”

KOtoko terkejut tak mengerti arah pembicaraan Naoki.

Naoki berbalik melihatnya “itu adalah pertama kalinya dalam hidupku aku gugup.. pertama kalinya dalam hidupku, aku takut melihat hasil test.. itu pengalaman yang sangat luar biasa” ucap naoki.

Naoki selama ini kan percaya diri kalau soal pelajaran. tapi saat ia ikut ujian nasional, kesialan datang padanya dan juga karena kantuknya dari obat yang kotoko berikan, membuatnya tidak bisa mengerjakan soal-soal itu dengan baik dan ia jadi gugup menunggu hasil test itu.

“itu bukan karenamu kalau aku tidak ikut ujian masuk universitas tokyo” lanjut naoki

“apa?”

“setelah aku mengantarmu ke rumah sakit, aku punya banyak waktu untuk ikut ujian”

“lalu kenapa tidak?”

“kau bilang kalau kau ingin pergi ke universitas untuk mencari tau apa yang kau ingin kan dihidupmu. Akan sangat menyenangkan bersamamu merasakan gugup dan penuh semangat. Aku pikir itu bukan ide yang buruk untuk ke Universitas Tonan tanpa harus ikut ujian. Aku heran apa yang akan aku lakukan jika aku pergi ke universitas tokyo.”

“maksudmu kau pilih sekolah yang sama karena aku?” tanya kotoko senang. Hehhehe.. sudahlah Naoki ngaku aja ngapa…😛

“tidak.. maksudku bukan seperti itu” sanggah Naoki langsung.

“tapi…” karena tak mau ditanya-tanya lagi Naoki segera mengambil kaleng kopi yang dipakai kotoko untuk menghangatkan tangannya tadi “ya sudah, silahkan pergi saja, semoga beruntung” . lalu Naoki berjalan pergi meninggalkan kotoko.

“ehhh tung..gu.. tunggu sebentar…”teriak kotoko, Naoki menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kotoko.

“apa menurutmu aku bisa tinggal dirumahmu lebih lama lagi?” tanya kotoko malu. Melihat Naoki yang terdiam, kotoko lalu berlari mendekati naoki “aku tak akan membuatmu dalam masalah lagi”

“itu tidak mungkin.. tidak mungkin kau tidak membuatku dalam masalah lagi.” Sahut naoki.

Kotoko tertawa malu “hehe.. kau benar.. baiklah aku berjanji , aku akan membuat hidupmu penuh semangat” ucapnya sambil tersenyum terimut pada Naoki.

Naoki sebenarnya seperti mau tertawa tapi ditahannya dan berbalik melangkah pergi sambil bergumam “kau mudah sekali merubah pikiranmu..”

Tiba-tiba saja salju turun membuat kotoko terlihat senang. Ia lalu tersadar klo Naoki sudah pergi jauh meninggalkanya. Kotoko mengambil kopernya dan berlari mengejar naoki. “ehh.. hari ini kan Valentine day..” seru kotoko pada naoki saat mereka sudah beriringan melangkah.

“emangnya kenapa klo valentine day?” tanya naoki “apa kau akan memberik coklat?”

“maaf.. apa kau mengharapkannya?” goda kotoko mencoba melihat ekspresi wajah Naoki yang masih saja datar.

“tidak juga” jawab naoki cuek membuat kotoko kecewa. Tapi ia agak terhibur mendengar pengakuan naoki yang aka pergi ke kampus yang sama dengannya. Kotoko tersenyum mengingatnya.

Setelah sampai rumah dan ganti baju, Naoki turun ke ruang makan dan membuka lemari esnya. Ia menemukan ada kotak warna pink dengan pita-pita di sana. Naoki mengambilnya, ia segera membuka pita dan kotak itu dengan penasaran.

Ia melihat ada coklat bentuk hati dengan tulisan dari kotoko untuknya. “selamat sudah lulus ujian universitas Tokyo”

Naoki mengambil coklat itu dan mengigitnya..” ahh tidak enak” gumamnya merasakan coklat buatan kotoko itu.

Didalam kamarnya kotoko menatap jauh keluar jendela kamarnya

“white valentine’days… tahun ini, perasaanku hanya berputar dalam lingkaran seperti ini. Tapi aku berharap, perasaanku akan meraih hatinya suatu hari nanti. “

Tanpa keduanya sadari sebenarnya mereka berdua sedang melakukan hal yang sama… menatap jauh keluar jendela, dan melihat salju yang turun.

Naoki dikamar sebelah, berdiri didepan jendela kamarnya menatap coklat pemberian kotoko dan juga ia melihat salju yang turun diluar jendela.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s