Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 10


Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo – Ep. 10

Episode 10: ~Pengakuan Di Malam Bersalju~

Musim dingin pertama setelah Kotoko masuk universitas. Kotoko menyiapkan bekal dengan gembira di dapur, ayah dan ibu Naoki serta ayah Kotoko akan melakukan perjalanan bersama ke pernikahan kawannya. Mereka berpamitan dengan gembira pada Kotoko dan Yuki,namun ibu Naoki khawatir meninggalkan mereka hanya berdua di rumah dan bertanya apa perlu kupanggilkan Naoki? Kotoko berkata tak perlu, Irie-kun mungkin sibuk, hanya sehari rasanya tak masalah. Kotoko menyerahkan sandwich yang dibuatnya sebagai bekal. Ayah Kotoko sangsi dengan bekal buatan Kotoko *hahaa*, tapi Kotoko meyakinkan kalau kemampuan memasaknya sudah meningkat sedikit sekarang. Mereka pun akhirnya berangkat. Kotoko bertanya dengan riang pada Yuki, “kau mau apa untuk makan malam?”. Yuki tak terlalu bersemangat dan berkata terserah Kotoko saja.
Makan malam siap dan Kotoko memanggil Yuki. Hari ini Kotoko memasak hamburger, hmm, dari tampilannya sih lumayan. Kotoko meminta Yuki mencicipi masakannya, Yuki memotong sedikit hamburgernya, memakannya dan menilai kalau rasanya lebih baik dari tampilannya. Kotoko senang, “Benarkah? Aku mengikuti resep Kin-chan kali ini dan aku sedikit percaya diri. Oya, sayuran di sekeliling hamburgermu jangan lupa dimakan juga”. Kotoko lalu mulai ikut makan dengan ekspresi puas, kali ini masakannya berhasil, haha. Yuki tampak tak bersemangat dengan makanannya dan tiba-tiba mengeluhkan perutnya yang sakit luar biasa. Kotoko panik dan khawatir kalau Yuki jadi seperti ini karena masakannya. Kotoko mencoba menelpon Naoki, tapi kemudian sadar kalau Naoki tak punya ponsel *whatt?? Hari gini nggak punya ponsel??*. Ibu Naoki juga tak bisa dihubungi. Kotoko sangat panik dan menelpon ke restoran ayahnya, Kin-chan yang mengangkat juga ikut panik karena tak bisa memberikan solusi. Senior Kin-chan mengambil alih telponnya, “Kau bilang keracunan makanan? Apa kau juga memakannya? Apa kau baik-baik saja saat ini?”. Kotoko sadar kalau dia baik-baik saja. Senior Kin-chan melanjutkan, “berarti mungkin bukan keracunan makanan, banyak sekali penyebab nyeri perut, bisa saja karena usus buntu atau penyakit lain. Sekarang telpon ambulance segera”. Kotoko mengiyakan dan Kin-chan berkata kalau ia akan membantu menemukan Naoki. Kin-chan segera minta ijin pada seniornya untuk keluar sebentar, seniornya mengiyakan, tapi shock begitu melihat banyaknya pengunjung dan dia sendirian, haha.
Kin-chan meminta bantuan Jinko dan Satomi agar bisa segera menemukan Naoki. Tak ada seorang pun yang tau alamat Naoki, tapi Kotoko tau tempat kerja Naoki, ingat Jinko dan Satomi. Kin-chan langsung menelepon Kotoko, tapi Kotoko yang masih panik dan baru sampai rumah sakit tidak mendengar kalau ponselnya berbunyi. Jinko dan Satomi hanya tau daerah tempat kerja Naoki, Kin-chan memutuskan untuk langsung mencari. Jinko dan Satomi yang ingin ikut dengannya diminta untuk mencari info dari Matsumoto Yuko saja.
Dan ya ampun, Kin-chan keren banget, semua kafe di daerah yang disebutkan tadi dimasuki satu per satu, tapi ia masih belum menemukan Naoki. Jinko dan Satomi berhasil menemui Yuko yang juga tak tau alamat rumah Naoki, Naoki tak pernah memberitahunya, tapi Yuko menyebutkan kafe tempat Naoki bekerja meski Yuko tak yakin dengan shift kerja Naoki. Kin-chan yang langsung diberitahu tempatnya langsung menuju kesana, dan akhirnya Naoki ketemu. Yaampuun, untung ya Naoki lagi kerja, kalo nggak kudu nyari kemana lagi coba??
Kin-chan memberi tau Naoki kalau Yuki sakit dan tanpa banyak komentar Naoki langsung menyambar jaketnya dan pergi dengan Kin-chan ke rumah sakit tempat Yuki dirawat.
Kotoko bingung saat dokter yang merawat Yuki berkata kalau kondisi Yuki tak parah, tapi perlu segera dioperasi dan bertanya apa kau keluarganya? Kotoko menggeleng dan berkata orang tua Yuki sedang bepergian. Dokter meminta Kotoko menghubungi anggota keluarga yang lain karena ada surat persetujuan yang harus ditandatangani. Kotoko semakin bingung.
Naoki sampai RS dan langsung bertanya dengan panik pada perawat dimana Yuki dirawat. Naoki masuk ke kamar Yuki dan bertemu Kotoko yang bilang kalau Yuki perlu segera dioperasi. Naoki menenangkan, ia sudah menjalani semua prosedur yang diperlukan dan Yuki akan segera dioperasi. Dokter masuk ke ruangan Yuki dan berkata operasi siap dilakukan sekarang.
Yuki masuk ke kamar operasi. Kotoko, Naoki, dan Kin-chan menunggu di luar. Kin-chan berpamitan pada Kotoko, ia harus segera pergi karena ia meninggalkan seniornya sendirian di restoran. Kotoko berterimakasih pada Kin-chan dan meminta Kin-chan menyampaikan terimakasihnya untuk senior Kin-chan. 

Kin-chan sudah berbalik pergi saat Naoki memanggilnya dan membungkukkan badannya dalam-dalam, berterimakasih pada Kin-chan. Kin-chan kembali mendekat dan marah, “Kau egois sekali. Tak ada seorang manusia pun yang bisa hidup sendirian. Kau tidak memberitahu alamatmu pada siapapun, kau tidak bisa ditemukan pada kondisi darurat seperti ini. Apa kau tau betapa paniknya Kotoko?”. Naoki terdiam. Kin-chan pergi setelah Kotoko sekali lagi berterimakasih padanya. Naoki tampak memikirkan perkataan Kin-chan dan terduduk di kursi ruang tunggu. Kotoko yang serba salah berkata kalau ia harus segera menelpon ibu Naoki. Naoki memberi isyarat kalau Kotoko tidak boleh ribut di ruangan RS, Kotoko mengerti dan keluar untuk menelpon.
Ibu Naoki panik saat diberitahu Yuki sedang dioperasi dan berkata kalau ia akan segera kembali ke Tokyo bagaimanapun caranya. Haha, jadi pas ditelpon itu ibu ayah Naoki sama ayah Kotoko lagi sibuk cari tumpangan ke Tokyo di tengah badai salju, sudah tidak ada penerbangan atau kereta menuju Tokyo lagi.

Naoki menyusul Kotoko keluar dan menemukan Kotoko yang menangis. Naoki menarik kepala Kotoko dan menyandarkannya di dadanya *ceritanya back hug*. Kotoko semakin menangis dan berkata kalau ia benar-benar takut. Kotoko berbalik dan memeluk Naoki. Naoki terkejut tapi berusaha menenangkan Kotoko. *aww, scene ini beneran sweet banget, Naokiiiiiiii!!*
Operasi Yuki berjalan dengan lancar. Dokter berkata pada Naoki, untung gadis itu bertindak cepat dan langsung membawa Yuki kesini, ini adalah penyakit yang bisa disembuhkan,tapi dapat berakhir fatal, terutama jika terjadi pada anak kecil. Dokter meminta Naoki untuk pulang malam ini, Yuki masih harus berada di ICU, tak perlu ditunggui dan kembali saja besok.
Naoki menemui Kotoko yang langsung berkata kalau ia saja yang menunggu Yuki malam ini. Naoki menggeleng, Yuki berada di tangan yang tepat, sebaiknya kita pulang saja malam ini, aku akan mengantarmu pulang. Eh tapi ternyata di luar lagi hujan salju. Naoki bergumam kereta terakhir sudah tak ada, dan tak mungkin pulang naik taksi dalam kondisi seperti ini. Kotoko mengamati jalanan dan sadar kalau dari tadi tak ada mobil yang lewat.
Naoki: “Kalau begitu kita ke apartemenku saja, hanya 10 menit berjalan dari sini”
Naoki berjalan duluan tanpa menunggu jawaban Kotoko. Kotoko shock dan menyusul Naoki sambil ribut soal payung.
Begitu sampai, Naoki membuka pintu dan mempersilahkan Kotoko masuk. Kotoko mengamati sekeliling ruangan dengan excited dan mulai heboh sendiri dengan imajinasinya.
“Apa Yuko-chan pernah kemari?”
“Tidak. Kau yang pertama.” *aawww…*
Naoki bertanya apa Kotoko mau mandi duluan, kau pasti kedinginan. Kotoko langsung menolak, kau saja dulu, kaulah pemilik rumah. Begitu Naoki mandi, Kotoko heboh sendiri dengan pikirannya. “Astaga, hanya aku berdua dengan Naoki di ruangan ini. Dan lagi, hanya ada satu tempat tidur. Aku pernah mengalami yang semacam ini, tapi sekarang situasinya berbeda”. Pokoknya hebohnya Kotoko banget dah.
Naoki selesai mandi dan menyodorkan baju ganti miliknya untuk Kotoko. Kotoko dengan gugup menerimanya dan masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi Kotoko heboh lagi, “ah, ini shampoo yang dipakai Irie-kun. Ah, ini sabun yang baru dipakai Irie-kun” *lah, bukannya pernah serumah ya?*. Naoki mengetuk pintu kamar mandi, Kotoko panik, tapi Naoki hanya mengatakan letak handuknya. Kotoko mengambil handuk dan menciuminya, terus pingsan. Hahaa, nggak tau ding pingsan apa nggak, yang jelas Naoki kayak denger suara gedebuk, tapi nggak terlalu dia pikirin.
Naoki sedang membaca buku waktu Kotoko selesai mandi dan berterimakasih. Naoki bilang kalau ia akan pergi tidur sekarang, aku akan tidur di kasur dan kau di bawah. Kotoko langsung kaget, apa kau tak seharusnya berkata, baiklah aku tidur di bawah, kau pakai saja tempat tidurnya. Naoki akhirnya bilang kalau ia bercanda dan menyuruh Kotoko untuk tidur di atas, dan dia menyiapkan selimut untuk alas tidur di lantai. Naoki mematikan lampu dan bersiap tidur. Kotoko naik ke tempat tidur dengan ragu. Nggak lama, Kotoko memanggil Naoki dan bertanya apa lampunya harus dimatikan semua, apa tak bisa menyalakan satu lampu kecil saja? Naoki bilang ia tak bisa tidur kalau tak benar-benar gelap. Tapi Kotoko kekeuh, aku tak bisa ke kamar kecil kalau segelap ini. Naoki mengalah lagi dan menyalakan satu lampu di samping tempat tidur, “apa ini cukup?”. Kotoko mengangguk.
Naoki kembali ke posisinya di lantai dan berusaha tidur lagi. Kotoko gelisah dan bertanya lagi, ”apa kau tak kedinginan? Biar aku saja yang tidur di lantai”. Naoki bangun dan kesal, tentu saja disini dingin, lalu bangkit dan tidur di samping Kotoko, cuma ini cara agar kau tidak cerewet lagi. Kotoko shock dan panik. Naoki tidur membelakangi Kotoko.

Dalam hati Kotoko: “Apa yang aku harapkan? Yuki-kun dalam keadaan seperti ini. Aku tak bisa melakukannya. Tapi…kita ada di kasur yang sama dan dia tau mencoba melakukan apapun padaku. Apa ini berarti aku tak menarik sebagai wanita? Ah iya, pasti begitu
Naoki tiba-tiba bertanya, “Apa kau depresi? Aku tau kau depresi karena aku tak mencoba melakukan apapun?” Kotoko menyangkalnya. Naoki: aku tak ingin semua berjalan seperti keinginan ibu, jika ia tau kau bermalam disini dan jika sesuatu terjadi, itu jelas yang ia inginkan, dia akan mengontrol seluruh sisa hidupku. Kotoko membayangkan reaksi ibu Naoki dan berkata ia mengerti.
“Itulah sebabnya aku tak memberitau dimana aku tinggal. Jika ibu tau, dia akan membuat kunci duplikat, mengundang dirinya sendiri untuk datang dan memasak 3 kali sehari untukku. Jika itu terjadi, tak ada artinya lagi hidup sendiri. Jika aku tetap tinggal di rumah, lulus kuliah, dan mengambil alih perusahaan ayahku. Aku mencari tau apa itu yang kuinginkan. Aku hanya akan mengikuti takdir yang dibuat orang tuaku. Tak masalah kalau itu sesuatu yang benar ingin kulakukan, tapi aku tak yakin. Aku ingin hidup mandiri untuk menemukan apa yang ingin kulakukan pada hidupku”
“Kau pernah bilang kalau aku sadar hidupku lebih menarik saat menghadapi tantangan daripada tanpa kerja keras”
Naoki membenarkan.
“Jadi kau tidak memulai hidup sendiri karenaku?”
“Untuk apa aku mencari banyak masalah untuk hal semacam itu. Hidup sendiri sudah cukup berat. Aku sadar betapa manjanya aku saat di rumah. Tapi, ini terjadi karena itu, kau selalu menjadi sumber masalah bagiku, tapi kali ini aku yang menyebabkan masalah bagimu”
Kotoko menggeleng, “Tidak seperti  itu, ini satu-satunya yang bisa kulakukan. Kau bisa melakukan segalanya karena kau jenius. Aku berpikir soal ini di RS tadi, hidup orang tergantung pada keputusan yang diambil dalam hitungan detik, sesuatu yang sangat kecil bisa membuat penyakit yang bisa diobati menjadi tak bisa diobati. Aku sadar betapa rapuhnya hidup manusia”
Naoki mengakui kalau ia juga takut, tapi hidup kita sudah ditentukan Tuhan, tak ada yang bisa kita lakukan
“Tapi aku merasa kau bisa, Irie-kun. Kau bisa menemukan obat baru. Atau kau bisa menjadi dokter dan menyembuhkan penyakit dalam hitungan detik. Kau sangat berpotensi. Kau mulai hidup sendiri untuk mencari kemungkinan-kemungkinan”
“Meskipun ada jutaan kemungkinan, itu tak berarti apapun kalau kau tak tau apa yang ingin dilakukan. Sampai aku mampu melakukan segalanya atau aku bosan. Saat hidupku menjadi sangat sibuk. Apa yang penting untukku. Apa yang membuatku tertarik. Sedikit demi sedikit, aku akan menemukannya”
Tak ada tanggapan dari Kotoko, Naoki curiga dan berbalik. Bener aja, Kotoko sudah tertidur. Naoki memandangi Kotoko dan berkata, “Kau selalu seperti ini di saat penting”, sambil terus memandangi Kotoko yang tertidur. Aaaakk, Naoki, ciyee!

Paginya, Naoki bangun dan tak menemukan Kotoko di sampingnya. Di meja sudah tersedia kopi, dan notes dari Kotoko, “Aku langsung ke tempat Yuki. Minumlah kopi ini jika kau ingin. P.S. kita berbicara banyak semalam. Terimakasih. Kotoko.” Naoki meminum kopinya sambil menghela napas memandang apartemennya. Jangan-jangan dia kesepian lagi udah nggak ada Kotoko, fufufuu..
Ayah ibu Naoki dan ayah Kotoko sampai ke rumah dengan penampilan berantakan, banyak daun nempel gitu, dan ibu Naoki langsung heboh manggil Kotoko. Ibu sedang sibuk menyiapkan pakaian Yuki saat Iri-chan menariknya melihat keadaan rumah yang sepertinya takberubah sejak semalam. Ayah Kotoko juga datang dan berkata kalau Kotoko tak ada di kamarnya, sepertinya ia belum kembali. Ibu Naoki panik, kemarin katanya semua baik-baik saja, tapi sesaat kemudian sadar, apa mungkin ia di apartemen Naoki? Ibu Naoki heboh sendiri sementara para ayah sedikit shock.
Naoki berjalan di koridor RS bersama seorang perawat (Aiko Sato! Kotoko di Itakiss 1996, aaak!), adikmu baik-baik saja, seorang gadis muda datang sangat pagi dan merawatnya, tampaknya Yuki sudah lebih nyaman. Mereka masuk ke kamar rawat Yuki dan mendapati keduanya tertidur, “ah, dia pasti sangat lelah, jangan membangunkannya. Pacarmu sangat cute, aku jadi ingat saat aku sepertinya, I-ri…” Yak, doi inget sama Kassi, sebelum ngelantur, perawat Kotoko buru-buru pergi.

Naoki melihat barang-barang yang dibeli Kotoko untuk Yuki, hiasan di dinding yang dibuatnya, burung-burung kertas yang berserakan di tempat tidur, dan (kembali) memandangi Kotoko yang tertidur di sisi Yuki.

Kotoko terbangun dan melihat Naoki, “Irie-kun”. Naoki hanya berkata Yuki sedang tidur dan meletakkan bunga yang ia bawa di kasur Yuki. “Sulit dipercaya ia sangat kesakitan kemarin, dokter bilang ia bisa segera pulang.” Naoki mengiyakan dan mengajak Kotoko untuk bicara. Mereka pergi ke loteng RS, Kotoko senang bisa menghirup udara bebas. Sambil berjalan Naoki berkata, “hey, kau selalu berkata kau mencintaiku, tapi apa kau pernah berpikir soal perasaanku?” Kotoko tersenyum, aku tau kau sama sekali tak tertarik padaku. Naoki bergumam “bodoh” dan berbalik menatap Kotoko yang terkejut, itu tak benar, kata Naoki yang semakin mendekat dan mencium Kotoko.
Kotoko bangun dan berteriak, YANG KEDUA! Kotoko sadar kalau itu cuma mimpi. Saat melihat ke arah Yuki yang sudah bangun, Kotoko khawatir kalau teriakannya membuat Yuki terbangun dan panik saat melihat wajah Yuki merah dan mengira suhu tubuh Yuki naik lagi. Yakin, ekspresi Yuki juara! Antara frustasi, stress, sama bingung. Yuki berkata ia baik-baik saja dan menunjuk bunga yang dibawa Naoki, kakak membawanya untukku, saat kau tertidur. Kotoko kaget karena Naoki tak membangunkannya. Kakak harus segera ke kampus, jawab Yuki. Kotoko lalu pergi menaruh bunga di vas.

“Jadi ini sama sekali bukan mimpi”, pikir Yuki sambil mengingat sesuatu. Yuki membuka matanya saat Naoki duduk di samping tempat tidurnya memandangi Kotoko yang tertidur. Yuki hendak memanggil kakaknya saat Naoki tiba-tiba mendekat dan mencium Kotoko. Yuki melihat semuanya dan shock! Saat sadar Yuki melihat apa yang dilakukannya, Naoki hanya tersenyum dan memberi isyarat Yuki untuk diam dan pergi. Btw ini Naoki kok adem ayem aja ya pas Yuki liat doi nyium Kotoko, nggak kaget sama sekali..

Saat Kotoko kembali dengan vas bunga di tangannya, Yuki hanya bisa memandangi Kotoko, masih dengan wajah shocknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s